Dampak revolusi industri pariwisata 4.0 terhadap industri pariwisata

Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Dewasa ini , pariwisata di indonesia sangat di gandrungi oleh Turis mancanegara maupun turis lokal. Berdasarkan data tahun 2016, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sebesar 11.525.963 juta lebih atau tumbuh sebesar 10,79% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kekayaan alam budaya yang merupakan komponen penting dalam pariwisata di Indonesia. Alam Indonesia memiliki kombinasi iklim tropis, 17.508 yang 6.000 di antaranya tidak dihuni , serta garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni Eropa

Saat ini , kita hidup di zaman teknologi yang kian hari kian canggih , Era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, politik, bahkan membuka perdebatan atas definisi manusia itu sendiri atau yang sering dikenal dengan kita hidup  di era “Revolusi Industri keempat” 


Revolusi Industri sudah menjadi tuntutan sesuai kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindarkan. Kita harus siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan berfikir kritis, kreatif, komukasi, dan bekerjasama. Dengan harapan juga akan melahirkan generasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi.

Di masa sekarang ini , tidak dapat ditolak bahwa Indonesa tengah menjajakj masa industri 4.0 ditandai dengan ekspansi teknologi melalui kecanggihan digital dan internet yang sudah kita rasakan sampai hari ini, misalnya Traveloka, Go-Jek, Grab, Online Shop dan lain-lain yang telah memudahkan masyarakat.

Industry 4.0 sangat erat kaitannya dengan  bidang pariwasata , dan tentunya akan menjadi sesuatu yang teramat menguntungkan bagi yang bisa mengelolanya dan akan menjadi momok yang menakutkan bagi kaum yang terus menolak akan perubahan zaman yang kian hari kian canggih. Perubahan ini tidak hanya menciptakan berbagai peluang, namun juga berbagai tantangan bagi pariwisata pada setiap pilar kepariwisataan Indonesia dalam mencapai tujuan yakni mensejahterakan masyarakat Indonesia 

Peringatan Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day) sudah diperingati pada 28 september 2018 yang lalu dengan  membawa tema “Tourism and The Digital Transformation” atau sebagai Tahun Pariwisata dan Transformasi Digital.

Namun dalam penerapan menuju Pariwisata 4.0 dibutuhkan unsur lain, salah satunya adalah Generasi milenial yang sudah berkompeten dalam industri revolusi 4.0

Dalam industri pariwisata tentunya akan ada dampak positif dan dampak negatif , dampak positif dari pariwisata Go-digital ini adalah konsumen menjadi lebih mudah dalam mengakses dan mengenal pariwisata yang akan dituju , lebih mudah dalam pemesanan tiket pesawat , hotel , tidak lagi menjadi kendala seperti tiket pesawat habis maupun tiket hotel habis sehingga menyulitkan konsumen untuk sibuk mencari hotel pengganti yang bisa jadi jauh dari objek wisata yang dituju tidak hanya konsumen yang di untungkan tetapi juga masyarakat yang bekerja dalam industri pariwisata ini akan menjadi sesuatu yang menguntungkan di era ini , mereka bisa melakukan promosi dan memperkenalkan tentang objek wisata , hotel lewat media sosial karena masyarakat di era sekarang ini pasti selalu ingin lebih mudah , tentunya mencari informasi di media sosial adalah salah satu jalan terbaik.

Memiliki dampak positif tentunya industri 4.0 memiliki segudang dampak negatif yang diantaranya adalah menciptakan pengangguran , contoh nyatanya adalah konsumen rasional memilih harga hotel dengan harga lebih murah yang dihasilkan di dalam pasar. Melalui digitalisasi, barang yang disediakan akan lebih murah karena penggunaan tempat, tenaga kerja, hingga hotel yang ditawarkan menggunakan mekanisme lebih efisien ketimbang yang ditawarkan konvensional. Tidak lupa berevolusinya model bisnis startup pada era ini dengan mekanisme bakar uang mampu memberikan potongan harga dan promo yang menggiurkan yang tentunya tidak ditawarkan oleh konvensional. 

Kehadiran transportasi daring di samping memberikan peluang terciptanya lapangan kerja baru juga berisiko menciptakan pengangguran baru jika tidak dapat diantisipasi. Sopir transportasi konvensional seperti sopir taksi yang menunggu penumpang berjam-jam di bandara berpeluang masuk jurang pengangguran akibat kemunculan transportasi daring yang dinilai jauh lebih murah dan nyaman di mata masyarakat saat ini, dan mengenai kemungkinan dirumahkannya para karyawan akibat anjloknya pendapatan perusahaan tersebut.

Serupa penyedia jasa transportasi konvensional, pedagang di kios-kios tradisional mulai tergusur akibat gelombang e-commerce melalui kemunculan berbagai toko daring. Para pedagang merugi dan berujung bangkrut karena toko daring menyediakan barang yang lebih bervariasi, murah, dan mudah diakses.

Tentunya tiap revolusi industri pasti akan selalu membawa dampak positif dan negatif , apalagi industri 4.0 yang masih diperdebatkan oleh banyak masyarakat karena masalah baru yang akan ditimbulkan , seperti halnya kita ketahui Revolusi industri keempat akan menggilas banyak orang, tetapi siapa bilang orang-orang yang tergilas itu tidak bisa bangkit dan memanfaatkan roda penggilas mereka.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started